Rencana Sandeq Race 2012 Akhirnya, Awal Matinya Sandeq? (2)

 

Oleh:
Horst Liebner
(Pemerhati Maritim Universitas Leeds, Inggris Raya)

TAHUN 2007 ternyata ada 54 lopi sandeq yang ikut berlomba. Jumlah peserta terbanyak yang pernah terkumpul selama mengadakan Sandeq Race. Tahun 2008 penyelenggaraan lomba diambil-alih tim gabungan jajaran pemerintahan di Sulawesi Barat dan LSM asal Majene, dan … ya, agaknya tak perlu saya ceritakan. Pada tahun 2009 tidak ada lagi lomba marathon ke Makassar.
Bagi saya saat itu, jelas, muncul satu pertanyaan, kenapa lomba Sandeq Race selalu ‘macet’, ‘kacau’ dan akhirnya ‘mati’ bila sudah berpindah tangan dari tim penyelenggara awal ke bermacam-macam panitia baru. Jika mau berandai-andai, maka salah satu jawaban yang paling gampang adalah ketidakefisienan birokrasi. Sebuah lagu lama yang rasanya sudah tak usah kita nyanyikan lagi. Kami pun kala itu berpikir bahwa hal-hal ini mungkin terjadi karena belum ada yang betul-betul mau belajar cara tepatnya mengadakan lomba itu, dan karena belum ada ‘rasa memiliki’ pada pihak-pihak administrasi kabupaten-kabupaten, kota-kota dan propinsi-propinsi terkait, mungkin sebab mereka merasa kurang dilibatkan.
Jadi, kami mendiskusikannya dengan teman-teman di Jakarta, Makassar, Mandar dan Mamuju, dan menyimpulkan bahwa mungkin jajaran pemerintahan di daerah belum betul-betul sempat mempelajari cara mengadakan Sandeq Race. Maka, pada tahu 2010 kami sebagai langkah pertama menyerahkan urusan administrasi lomba serta pencaharian dan pembagian dana sepenuhnya kepada pemerintahan di Sulawesi Barat dan Selatan, dan berkonsentrasi atas yang paling rumit, yaitu pelaksanaan di lapangan saja. Di lapangan pun kami berusaha mengajak orang-orang administrasi pemerintah untuk betul-betul ikut dalam mengurus para peserta dan medan lomba dengan menyediakan berbagai insentif bagi yang mau berjuang buat lomba Sandeq Race.
Akan tetapi … , ya, begitulah, yang ternyata akhirnya lari-lari di lapangan tetap para marinir, anak-anak muda asal Mandar dan Makassar dan orang-orang asing. Dan dari pada mendukung dan membantu dalam pelaksanaan para administrator di pemerintahan propinsi dan kabupaten selama ini lebih sering terlihat sibuk dengan menyulitkan tim lapangan dengan, misalnya, tidak memenuhi janji-janjinya atas bantuan sarana dan prasarana dan bahkan sepertinya tidak pernah mampu mengeluarkan dana bagi baik persiapan perahu peserta maupun lapangan pada waktunya. Meski semua itu selalu dibicarakan dan dijanjikan jauh hari sebelumnya. ‘Kan jelas sekali, karena selama ini tidak mungkin mengandalkan jajaran kantoran yang selalu janji tetapi jarang menempati itu, maka tinggal saja tim lapangan berusaha sekeras-kerasnya untuk mengadakan sendiri sebanyak mungkin hal tanpa melibatkan mereka. Dan jelas juga bahwa dengan cara ini para pegawai dan pejabat pemerintah tak pernah akan merasa ‘miliki’ lomba itu, apalagi menjadi mampu melaksanakannya.
Ya, para pembaca pasti bertanya, sebenarnya kalau selalu rumit begitu, mengapa perlu mengadakan Sandeq Race? Apa sebenarnya dapat diharapkan dari Sandeq Race itu? Kami selama ini, berpikir bahwa lomba itu adalah sarana promosi yang amat bagus bagi daerah-daerah terkait dan kami pun selama ini berpendapat bahwa promosi inilah yang semestinya diurus oleh yang diuntungkannya itu, yaitu jajaran pemerintah kabupaten, kota dan propinsi. Bagaimanapun, dalam pemberitaan di koran-koran akhir-akhir ini kami dengar bahwa sampai sekarang ada instansi di Jakarta yang belum tahu bahwa perahu sandeq itu berasal dari Mandar … jadi, jajaran pemerintahan di Sulawesi Barat sepertinya belum begitu berhasil menerangkan adanya lomba Sandeq Race kepada yang sesama orang pemerintahan di pusat.
Oleh karena itu, katanya, muncul ide mengadakan Sandeq Race dengan format lain. Idenya, mungkin, kalau yang satu ini tidak bisa mengangkat nama Mandar, maka sebaiknya coba yang lain lagi.
Kalau di luar negeri, rasanya, orang sudah tahu bahwa Sandeq Race adalah sebuah lomba orang nelayan Mandar, yang diadakan sekitar bulan Agustus dengan trayek dari Mamuju di Sulawesi Barat ke Makassar, kota terbesar Sulawesi, dan bahwa sandeq itu berasal dari Mandar pula. Selama ini tim penyelenggara ‘lama’ ‘kan selalu mengundang wartawan, penulis, pengamat dan olahragawan nasional dan internasional untuk ikut, sehingga sudah ada puluhan film di televisi nasional dan internasional, tulisan di majalah-majalah dan koran-koran seantero dunia serta berbagai informasi di internet tentang lomba Sandeq Race yang diikuti perahu-perahu khas Mandar itu.
Hasilnya pun cukup menggembirakan. Tadi sudah saya sebutkan sandeq yang pada tahun 1996 dibawa ke Paris sebagai lambang sebuah pameran besar itu, dan pada tahun ini ada tiga perahu sandeq lengkap dengan passandeq Mandarnya yang ikut di sebuah festival maritim raksasa di Brest, Perancis.
Mungkin, ya, mungkin memang waktu yang diberikan kepada jajaran pemerintah daerah untuk mempromosikan lomba itu ke publik mereka belum cukup. Kan, baru pada 1995 Sandeq Race-nya dimulai, dan baru sejak tahun 2004 ada yang namanya Sulawesi Barat. Nah, jangan-jangan ada kesannya bahwa kalau urusan promosinya ke teman-teman kantoran di Jakarta saja belum bisa beres, maka urusan lapangan lomba yang jauh lebih rumit itu nanti, apalagi jika mau menempuh trayek yang baru.
Mungkin ada pun suatu alasan yang lain lagi yang menjadi pertimbangan pada usulan lomba Sandeq Race yang baru itu, Salah seorang teman dari tim penyelenggara tahun-tahun silam yang tidak ingin namanya disebutkan berpendapat bahwa kemunkinan besar manuver pemerintah daerah itu bertujuan ‘mematikan’ format dan kegiatan lomba yang ada sampai sekarang ini. Menurut dia, ketika mengadakan sendiri Sandeq Race pada tahun 2004 dan 2008, sudah dengan jelas terlihat kemauan dan kemampuan jajaran pemerintah. Pelaksanaannya tidak teratur, peserta lomba tidak puas, dan pada tahun berikutnya tidak ada lagi Sandeq Race. “Jadi, kalau selama ini sekelompok orang asing dan anak-anak muda menjalankan lomba itu dengan sukses maka jajaran pemerintah sepertinya ‘dipertontonkan’ pasti malu mereka itu. Mungkin pikirannya, lebih baik seluruh kegiatannya diubah secara radikal agar tidak ada lagi yang mengingatkan akan format lomba yang dibuat oleh orang-orang asing dan anak-anak muda itu”, katanya.
Sepertinya, selama ini memang ada ‘antipati mendalam’ di jajaran pemerintahan terhadap kegiatan lomba Sandeq Race. Selama mengadakan ajang lomba itu sejak 1995, dukungan didapat dari para pemimpin pemerintahan saja, sementara staf-stafnya selalu kelihatannya merasa “diberatkan” dengan adanya lomba yang melewati daerah-daerah mereka. Maka, sangat sering muncul kesannya bahwa mereka berusaha menghalangi apapun yang bisa dihalangi. “Mulai dari tidak memenuhi janji-janjinya akan misalnya akomodasi bagi olahragawan asing yang mau ikut berlomba atau bantuan mobil dan sarana lainnya sampai penyediaan dana”, cerita temanku itu.
“Jadi, dengan mengambil-alih dan merombak total kegiatan lomba itu jajaran Pemda itu memang akhirnya bisa mengesampingkan tim penyelenggara tahun-tahun silam yang tak disuka itu … .”
Bagi saya sendiri muncul juga suatu pertanyaan lain. Selama mengurus Sandeq Race, dari tahun ke tahun kami selalu dituntut ‘meningkatkan’ cara mengadakannya. Ya, kami berusaha dan jelas bukan sayalah yang dapat menilaikan hasilnya. Jadi, kenapa pada tahun ini di mana pemerintahlah mau mengadakan lomba ini kesannya bahwa bukan hanya rute barunya saja takkan menjadi suatu peningkatan? Sebaliknya, rutenya saja kemungkinan besar tidak akan mampu menarik perhatian penonton dan media sebanyak tahun-tahun silam. Sebagian besar dari trayek baru itu diadakan di daerah-daerah yang agak susah ditempuh karena jauh dari jalan-jalan raya dan bandara. Apalagi daerah-daerah itu selama ini dikenali sebagai kawasan teduh. Dasarnya kan kalau yang namanya lomba perahu layar perlu angin. Dan kita belum sentuh berbagai perubahan lainnya yang dikoarkan di koran akhir-akhir ini, mulai dari pengurangan dana persiapan dan perjalanan untuk para peserta sampai perubahan tanggal lomba.
Kalau memang bisa dan mau mengadakan lomba dari Pasangkayu atau Budong-Budong ke Polewali pada hari lahir Sulawesi Barat, kenapa tidak membuatnya menjadi tambahan atas format lomba yang selama ini terbukti lazim diadakan dan mampu menarik perhatian masyarakat dalam dan luar negeri? Semestinya, bila ada dua lomba sandeq besar yang diadakan dengan baik dan benar, daya tarik dan gaungnya perahu sandeq dan Sandeq Race juga akan meningkat dua kali! Rasanya, baru yang demikianlah namanya peningkatan. (**)

Share Button

Related Stories »

1 comment on “Rencana Sandeq Race 2012 Akhirnya, Awal Matinya Sandeq? (2)

  1. muh. asri anas
    / Reply

    Sandeq race merupakan kebanggaan sulbar, saya berharap apa yg telah dirintis harus ttp dilanjutkan..inilah tradisi sulbar yg sangat2 dibanggakan….klau bisa radar sulbar menjadi motor utama pengerak Sandeq Race

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

  • OBMmj (6 hari ago)
    Project Reklamasi Pantai Mamuju Tahap 2,.. (Rimuku - Karema).. penuh…
  • mrdn (1 week ago)
    Banyak peserta dari pulau Jawa. Tapi pemenang harus dari Mamuju…
  • bruno (3 weeks ago)
    kapan sk cpns umum 2013 terbit dan kapan mulai aktif…
  • IBU WIDIA (4 weeks ago)
    ASSALAMU ALAIKUM SAYA IBU WIDIA ANGGOTA HONORER YANG LULUS K2…
  • wahyu (1 month ago)
    Maaf admin, coba kumpulin smua aksara lontar dari awal sampai…
  • wahyu (1 month ago)
    klo masalah huruf aksar lontar,, aksar lontar banyak,, mngkin memakai…
Close