Pembangunan Taman Budaya, Apa Kabar?

Penulis: Hendra Djafar

Mahasiswa Unasman Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, aktif di Teater Panggung Palloto

Sejarah Taman Budaya di Indonesia tak terlepas dari kebijakan Direktorat Jendral Kebudayaan  Departeman Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia di era tahun 1970-an.

Direktur Jendral Kebudayaan kala itu, Prof. DR. Ida Bagus Mantra, menyaksikan bahwa di banyak negara lain pusat-pusat kebudayaan dan seni  begitu hidup dan berkembang marak, pusat- pusat semacam itu di dukung oleh sarana dan prasarana seperti gedung pertunjukan, seni tari, seni teater, seni musik, dan ruangan loka karya yang sangat terpadu.

Kenyataan tersebut mengilhami pemikiran Prof. DR. Ida Bagus Mantra tentang pentingnya pusat kebudayaan dan kesenian dibangun di setiap provinsi yang ada di Indonesia. Sekurangnya pusat-pusat kebudayaan itu dapat menjadi etalase bagi kekayaan ragam budaya dan seni daerah di negeri yang bersemboyang Bhineka Tunggal Ika ini.

Pada tahun 1978, dengan masukan dari kalangan seniman dan cendekiawan, berdasarkan  Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan berdirilah pusat-pusat kebudayaan yang disebut “Taman Budaya” di beberapa provinsi. Ketika itu secara kelembagaan Taman Budaya adalah Unit Pelaksana Teknis bidang kebudayaan yang bertanggung jawab lansung kepada Direktur Jendral Kebudayaan yang berkedudukan di Jakarta. Tugas utamanya melaksanakan pembinaan kebudayaan di daerah provinsi.

Pada tahun 1991, organisasi dan tata kerja Taman Budaya mengalami perubahan yang berdasarkan, surat Keputusan Menteri  Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 0221/O/1991. Lalu pada perkembangan selanjutnya Taman Budaya di seluruh Indonesia ditempatkan dalam struktur Pemerintah Daerah sesuai dengan Undang Undang No. 22 tahun 1999 dan PP no. 25 Tahun 2000 tentang Otonomi Daerah.

Dan perekembangan selanjutnya berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2009 tentang Pengembangan Ekonomi Kreatif, Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, akan mendorong Taman Budaya untuk mengembangkan 14 sektor industri kreatif yang meliputi: periklanan, arsitektur, pasar seni dan barang antik, kerajinan, desain, fesyen, film, video, fotografi, permainan intraktif, musik seni pertunjukan, penerbitan dan percetakan, layanan komputer, dan piranti lunak, radio dan televisi, dan riset dan pegembangan, serta kuliner yang merupakan sektor baru yang baru saja di masukan dalam sektor ekonomi kreatif.

Arti penting adanya Taman Budaya di daerah sebagaimana gagasan awal pendirian Taman Budaya sebagai Rumah Budaya dan sekaligus garda depan pengawal pelestarian dan pengembangan Budaya dan seni di provinsi sebagai ruang publik yang strategis bagi masyarakat Indonesia, Taman Budaya menyediakan ruang bagi hidupnya budaya dan seni serta para seniman.

Mengingat pentingnya Taman Budaya, keberadaannya di suatu daerah maka pemerintah Sulawesi Barat  akan mendirikan Taman Budaya. Sampai tahun 2008, hampir lima tahun setelah berdirinya Sulawesi Barat, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemuda dan Olahraga mengundang budawayan dan pekerja seni se-Sulawesi Barat dalam acara Silaturrahmi Gubernur dengan  Budayawan dan Tokoh Masyarakat Se-Sulawesi Barat. Acara dilaksanakan di Gedung PKK Provinsi Sulawesi Barat, tanggal 24  Nopember 2008.

Dalam kata sambutannya, Gubernur Sulawesi Barat, Anwar Adnan Saleh memberikan kewenangan kepada para peserta untuk memutuskan akan dibangun di mana Taman Budaya. Dalam pertemuan tersebut, disepakati penempatan Taman Budaya akan dibangun di Katitting, Desa Tandung, Kecamatan Tinambung, Kab. Polewali Mandar atau perbatasan Polewali Mandar dengan Majene.

Sangat disayangkan hingga hari ini setelah lima tahun berlalu dari pertemuan tersebut, pembangunan Taman Budaya Sulawesi Barat belum juga ada peletakan batu pertamanya dari Pemerintah Sulawesi Barat. Pertanyaannya, apakah gubernur pada tahun 2008 itu hanya sekedar berjanji akan membangun atau belum bangun saat mengatakan akan membangun Taman Budaya?

Dan yang paling memilukan, santer tersiar kabar bahwa pembangunan Taman Budaya, yang diperkuat dengan usulan penganggaran tahun 2011 di DPRD Sulawesi Barat, bahwa pembangunan Taman Budaya akan ditempatkan di Simboro Di kabupaten Mamaju sebagai ibukota Sulawesi Barat.

Kembali penulis bertanya, apakah pribahasa di Mandar yang berbunyi “pau tia di sanga tau”  sudah pudar? Sebab nyata-nyata gubernur di hadapan para seniman, pelaku seni, dan budayawan  memberikan kewenangan untuk tempat pembangunan Taman Budaya. Lalu mengapa tiba-tiba pembangunan taman budayanya ada di Simboro? Seolah ada pengkhiatan didalamnya.

Untuk membuktikan pudar tidaknya pribahasa mandar “pau tia di sanga tau”  dan memdorong percepatan pembangunan Taman Budaya di Tinambung sebagai komitmen awal, maka para pelaku seni, seniman dan budayawan membentuk sebuah gerakan yang disebut Serikat Pekerja Seni dan Budaya (SPSB) yang terdiri dari 36 komunitas seni budaya di Polewali Mandar dan Majene.

Sebagai sebuah gerakan intelektual dan berbudaya, SPSB melakukan langkah berupa menyurat kepada Ketua DPRD Provinsi, yakni Permohonan Mediasi dengan Gubernur Sulawesi Barat tertanggal 17 Juli 2012. Namun hingga hari ini (Senin, 6/8) Ketua DPRD Provinsi belum menanggapinya.

Sebab tidak ada tanggapan, dalam waktu dekat SPSB akan mengambil tindakan sendiri yang intinya harus bertemu dengan Gubernur, meminta agar tidak mengingkari komitmennya di tahun 2008.

Ini merupakan langkah kesekian yang dilakukan SPSB di mana sebelumnya bertemu dengan Komisi IV DPRD Polman yang diwakili Latif Abbas beberapa bulan lalu. Tapi ternyata, janji untuk memediasi pertemuan antara SPSB dengan gubernur guna membicarakan Taman Budaya juga tak tertepati.

Terakhir, penulis perlu menjelaskan pemberitaan di Radar Sulbar beberapa waktu lalu tentang rencana pembangunan di Buttu Ciping, Tinambung. Yang akan dibangun di sana adalah semacam Revitalisasi Budaya yang sifatnya untuk menyimpan artefak-artefak seperti rumah adat dan benda-benda budaya Mandar lainnya. Jadi bukan Taman Budaya.

Taman budaya itu bila dianalogikan semacam dapur pengembangan budaya setempat. Yakni tempat pembinaan bentuk-bentuk kebudayaan, terkhusus kesenian. Seperti teater, musik, tari, dan lain sebagainya. Dan yang paling penting, sebab banyak juga yang salah apaham, ada perbedaan mendasar antara Gedung Kesenian dengan Taman Budaya.

Jika tadi dianalogikan Taman Budaya sebagai dapur, maka Gedung Kesenian itu ruang tamunya. Bagi SPSB, tidak apa-apa Gedung Kesenian dibangun di Mamuju, tapi Taman Budayanya haruslah dibangun di tempat yang disepakati dalam pertemuan 2008 lalu.

Penulis mengakhiri dengan “pappasang” Mandar “Na iyya tomawuweng andang tandiruanna na titemei anaqna wattu diriwanna. Muaq mitittemei anaq dipattungi manya-manya mane dibasei anna dipicalanai.” Artinya orang tua pasti pernah dikencingi anaknya kala menggedongnya. Orangtua akan menurunkan dari gendongan dengan penuh kasih sayang untuk kemudian mengenakannya lagi celana.

Share Button

Related Stories »

7 comments on Pembangunan Taman Budaya, Apa Kabar?

  1. basri amin
    / Reply

    Saya sangat setuju kalam taman budaya di benahi agar semua budaya kita bisa tumbuh dan berkembang lewat dengan pembinaaan para pemerhati budaya dan para pelaku perancang sedni budaya. betapa kayanya kita di sulbar ini aneka ragam seni budaya dan sangat membutuhkan media untuk memelihara dan mengembbangkannya.

    • DANIAL
      / Reply

      PANTANG MUNDUR KAWAN – KAWAN KARENA HARI INI TEMAN2 MAMUJU AKSI TERBALIK

  2. / Reply

    YANG MENYURAT KE DPRD POLMAN ITU BUKAN SPSB TAPI (APPBM SULBAR) YANG DIGALANG SURYANANDA LEWAT PERSEKUTUAN (AMPIS SULBAR) YANG DIDALMNYA TERMASUK APM BALANIPA DAN RUMPUN PEMUDA LUYO SERTA GARDA TELUK MANDAR. YANG BERGERAK DENGAN AKSI SEBELUMNYA DUA KALI SEHINGGA DIMINTALAH DPRD POLMAN DIMEDIASI DENGAN BUDAYAWAN ,,LALU HASIL DISKUSI DI KOMISI IV BERSAMA LATIEF ABBAS …DAN SAAT ITU BELUM ADA SPSB DAN BELUM ADA GERAKAN DARI SIAPAPUN MESKI AWALNYA ADALH ISU BERSAMA..JADI SANGATSALAH KALU TULISAN INI MENGTAKAN”Ini merupakan langkah kesekian yang dilakukan SPSB di mana sebelumnya bertemu dengan Komisi IV DPRD Polman yang diwakili Latif Abbas beberapa bulan lalu. Tapi ternyata, janji untuk memediasi pertemuan antara SPSB dengan gubernur guna membicarakan Taman Budaya juga tak tertepati.” SEBAB ITU BUKAN UPAYA SPSB..WALAUPUN PADA AKHIRNYA DALAM SERIKAT SPSB INI DIDALAMNYA TERGABUNG APPBM SULBAR…MOHON HENDRA MENULISKANNYA DENGAN BAIK JANGN MENAFIKKAN SEJRAH..KAMI SAKSI PERJUANGAN KAWAN KAMI SURYANANDA

  3. / Reply

    kakanda hendra mungkin kakanda menuliskan sedikit kekeliruan,,yakni SPSB yang melakukan usaha bertemu DPRD Komisi IV polman,,yang pastinya saat itu SPSB sama sekali belum lahir..kami yang melakukan aksi dalam naungan AMPIS sulbar,,,nantilah titik akhirnya setelah dialog di DPRD tidak ditepati barulah SPSB di bentuk Di Tinambung lalu Merangkul APPBM Sulbar Yang selama Ini ikut aktif menyuarakan persoalan budaya Mandar termasuk taman budaya,,,saya sebagai saksi bahwa bukan SPSB yang bergerak tapi kak Surya bersama kawan2 ampis..saddan. dan Komisariat PMII UNASMAN

  4. / Reply

    saya salah satu orang mamuju yang ikut selalu menyuarakan taman budaya di polewali bersama kawan2 APPBM sulbar..sehingga tulisan diats saya sangat mendyukung namun ada keberadaan yang keliru di tuliskan sebagaimana Yang hendra katakan,,dan saya yakin hendra sendiri melihat fakta betapa kami dan kawan tinambung luyo dan wono di polewali Yakni AMPIS SULBAR dalam hal ini Surya, yusran, ilham saddan dan Komisariat PMII Unasmanlah yang menyuarakan di DPRD Polman ,, Bukan SPSB..barulah SPSB muncul ketika isu semakin kuat..meski kami tidak menyalahkan penulis tapi sejarah jangan dinafikkan,,kami tahu persis anda mengtahui kejadian tersebut,,oleh karna saudara yang ikit di DPRD saat itu

  5. / Reply

    saya tidak pernah ikut dalam aksi tapi melainkan mengikuti perkembangan beritanya..yang saya tahu SPSB lembaga yang baru..dan tak pernah berbuat Apa2 barulah kemarin saya dapat kabar kalau ada yang namanya SPSB…yang saya tahu yang mengobrak abrik DPRD Polman itu teman2 unasman Bukan SPSB,,,,

  6. / Reply

    Ini adalah tahap…yang akan berlanjut, surut atau mentok bukan alasan…kalaupun ada in merusak perjuangan… mari bersama tanpa ada yang merasa lebih dari segalanya,,,

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

  • OBMmj (3 hari ago)
    Project Reklamasi Pantai Mamuju Tahap 2,.. (Rimuku - Karema).. penuh…
  • mrdn (6 hari ago)
    Banyak peserta dari pulau Jawa. Tapi pemenang harus dari Mamuju…
  • bruno (2 weeks ago)
    kapan sk cpns umum 2013 terbit dan kapan mulai aktif…
  • IBU WIDIA (3 weeks ago)
    ASSALAMU ALAIKUM SAYA IBU WIDIA ANGGOTA HONORER YANG LULUS K2…
  • wahyu (1 month ago)
    Maaf admin, coba kumpulin smua aksara lontar dari awal sampai…
  • wahyu (1 month ago)
    klo masalah huruf aksar lontar,, aksar lontar banyak,, mngkin memakai…
Close