NU dan Pondok Pesantren

Catatan Jelang Konferwil NU Sulbar

Oleh: Busyra Baharuddin (Sekum PMII Polman)

BERBICARA NU tak ubahnya membicarakan pesantren. Lahirnya NU tidak
dapat dipisahkan dari pergumulan pesantren. NU lahir karena pesantren,
segala apapun yang ada dalam tubuh NU adalah segala apapun yang ada
dalam tubuh (pendidikan) pesantren. Ini terbukti jika sejak
kelahirannya, NU diprakarsai oleh tokoh dari pesantren yakni KH Hasyim
Asy’ari dan KH Wahab Hasbullah.

NU yang lahir bertepatan dengan tanggal 31 Januari 1926, hingga
sekarang menginjak awal tahun 2013, NU terus berkembang di bumi
nusantara. Dua tokoh kharismatik yang menjadi “dalang” pendirian NU
yaitu Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari dan Hadratussyaikh KH Wahab
Hasbullah telah berhasil mewujudkan cita-citanya dalam mendakwahkan
Islam moderat untuk kebangkitan karakter bangsa, terbukti, jika hingga
kini di tengah peradaban global sekalipun, NU masih bertahan dan
mengakar kuat.
Dalam melihat perjalanan NU di Indonesia, A. Muhaimin Iskandar
berpendapat bahwa dinamika internal yang mewarnai perjalanan NU selama
ini tidak bisa dilepaskan dari dua hal. Pertama, NU pada hakikatnya
merupakan pelembagaan dari tradisi Islam yang sudah ratusan tahun
hidup dan berkembang di nusantara. Kedua, kelahiran NU tidak dapat
dipisahkan dari kelahiran Nahdlatul Wathanyang berdiri pada tahun
1914, Nahdlatut Tujjar (1918) dan Tashwirul Afkar (1918) yang juga
didirikan oleh para ulama pendiri NU.
Nahdlatul Wathan yang artinya kebangkitan bangsa atau tanah air
merupakan organisasi pendidikan dan dakwah untuk menyediakan sumber
daya manusia yang berwatak religius dan nasionalis. (A. Muhamin
Iskandar, 2009; 150-151).
Meski demikian, sebagai orgnisasi yang terus bergerak, fluktuasi
antara kelesuan dan kebangkitan tetap tidak dapat terhindarkan, mulai
ketika NU berfusi dengan partai politik hingga “bercerai” dan memilih
kembali ke khitthah adalah fluktuasi yang begitu banyak memberikan
pelajaran bagi kedewasaan NU sebagai ormas terbesar di Indonesia.
Namun demikian, satu benang merah yang dapat kita ambil hikmahnya
adalah kontribusi berharga NU dalam mengembangkan tradisi dan Islamnya
yang moderat. Dari era KH Hasyim Asy’ari, KH Abdurrahman Wahid, hingga
sekarang PBNU yang dinahkodai KH Said Aiel Siradj, tetap teguh dalam
mengampanyekan Islam moderat ala Indonesia, yang besikukuh pada empat
pilar kebangsaan; Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika.
Dan kebulatan tekad mengukuhkan empat pilar kebangsaan ini adalah
salah satu keputusan Muktamar NU di Makasar di awal-awal tahun 2012
silam.
Berbicara NU tak ubahnya membicarakan pesantren, lahirnya NU tidak
dapat dipisahkan dari pergumulan pesantren. NU lahir karena pesantren,
segala apapun yang ada dalam tubuh NU adalah segala apapun yang ada
dalam tubuh (pendidikan) pesantren, ini terbukti jika sejak
kelahirannya NU diprakarsai oleh tokoh dari pesantren yakni KH Hasyim
Asy’ari dan KH Wahab Hasbullah.
Banyak hal menarik jika kita berbincang soal pesantren. Saking
menariknya Gus Dur (KH Abdurahman Wahid) menegaskan bahwa khazanah
yang ada dalam pesantren merupakan sub kultur dari pada Islam itu
sendiri. Inilah yang menurut kami mengapa pendidikan pesantren tetap
survive hingga saat ini, bahkan di tengah gempita globalisasi
sekalipun.
Ditinjau dari sudut sejarahnya, sebagaimana dikemukakan oleh Hasbullah
(1995: 138) bahwa pesantren yang merupakan “Bapak” dari pendidikan
Islam di Indonesia, didirikan karena adanya tuntutan dan kebutuhan
zaman, sesungguhnya pesantren dilahirkan atas kesadaran kewajiban
dakwah Islamiyah, yakni menyebarkan dan mengembangkan ajaran Islam,
sekaligus mencetak kader-kader ulama atau da’i.
Corak tersendiri dari kehidupan pesantren dapat dilihat juga dari
struktur pengajaran yang diberikan dari sistematika pengajaran,
dijumpai jenjang pelajaran yang berulang-ulang dari tingkat ke tingkat
tanpa terlihat kesudahannya. Struktur pengajaran yang unik dan
memiliki khas ini tentu saja juga menghasilkan pandangan hidup dan
aspirasi yang khas pula. (Abdurrahman Wahid, 2010: 7).
Dari berbagai keontetikan dan kebertahanan pesantren, KH Said Aqiel
Siradj berkesimpulan bahwa pesantren itu tidak terlepas dari
al-mas’uliyah al-arba’ah (empat kapabilitas), yaitu; pertama,
mas’uliyah aldiniyah (religion capability) yang diimplementasikan
dalam kiat pesantren untuk memperjuangkanda’wah Islamiyah yang nota
bene dia berarti sebagai tumpuan harapan pemecahan semua masail
al-diniyah. Kedua, al-mas’uliyah al-tsaqafiyah (educational
capability) yang lebih meningkatkan kualitas pembelajaran dan
pendidikan umat.
Ketiga, al-mas’uliyyah al-amaliyyah (pratice capability) yang lebih
mengutamakan pada realisasi hukum Islam/syariat dalam kehidupan
pribadi maupun kehidupan sosial-masyarakat.Keempat, al-mas’uliyyah
al-qudwah (moral capability) yang lebih memusatkan pada perilaku
akhlak al-karimah.(Said Aqil Siradj: 2007: 51).
Dari dua perjalanan yang hampir bergandengan dan bersamaan antara NU
dan pesantren, kami mencoba berusaha melacak beberapa pokok pemikiran
dan gerakan nyata dari dua institusi (NU dan pesantren) yang kami
istilahkan sebagai hubungan “simbiosa mutualisma”.

Basis NU dan Pesantren

Adapun hasil “lacakan” kami tersebut bertumpu—sekurang-kurangnya—pada
dua prinsip yang telah lama mengakar kuat dan dikembangkan NU dan
pesantren.
(1) Kekuatan Tradisi. Ada sebuah adagium (yang sudah masyhur
dikalangan pesantren) berbilang: “al-Muhafadhatu ‘ala al-qadimi
al-Shalih wa al-Akhdzu bi al-Jadid al-Ashlah” (Menjaga tradisi yang
masih relevan dan baik, dan mengambil tradisi modern (kontekstual)
yang lebih baik).
Sebagai salah seorang yang masih mengenyam pendidikan kesantrian, saat
itu pula kami merasakan betapa berharganya dapat merasakan
“gemblengan” pendidikan ala pesantren. Di pesantren tidak hanya
diajarkan tentang tradisi atau budaya yang bersifat materi belaka
(seperti warisan budaya, kesenian, kerajinan, dll), melainkan pula
diajarkan betapa berharganya khazanah “emas” klasik atau yang biasa
dikenal dengan kitab kuning.
Sebagaimana pesantren, NU sebagai ormas yang mempunyai komitmen dalam
membangun pandangannya diatas dunia tradisi Islam dan masyarakat yang
ada, mempunyai tugas dalam menjaga tradisi-tradisi tersebut pula.
Dalam pada itu, A. Muhaimin Iskandar dalam salah satu kolomnya yang
berjudul “NU dan Transformasi Bangsa” (2009) memberikan dua pola
penjagaan tradisi dalam tubuh NU. Adalah pertama, khazanah Islam masa
lampau (legacy ot the past). Dalam tradisi NU, kebesaran khazanah
peradaban Islam itu dilembagakan dalam kitab-kitab fiqih, geraka
tareqat dan dialog terus-menerus dengan realitas dan tradisi
masyarakat setempat.
Kedua, tradisi berfikir fiqih dalam kerangka pemikiran mazhab.NU di
kenal sebagai oraganisasi keagamaan secara fiqih berpegang pada salah
satu mazhab empat; Hanafi, Maliki, asy-Syafi’i, dan Hanbali. Disamping
itu NU juga merujuk pada Imam Abu Hamid al-Ghazali dan Junaid
al-Baghdadi dalam tarekatnya, serta serta kepada Abu Hasan al-sy’ari
dan Abu Mansur al-Maturidi dalam pemikiran tauhid atau teologinya.
Ya, inilah saya rasa basis dari kebertahanan NU dan pendidikan
pesantren dalam mengukuhkan eksistensinya sebagai dua institusi yang
berkomitmen untuk menjaga tradisi-tradisi yang dimiliki bangsa
Indonesia.Keduanya saling memengaruhi dalam jalinan yang saling
menguntungkan; “simbiosis mutualisme”.
(2) Pembentukan Karakter Bangsa. Ini adalah bentuk penegasan bahwa NU
dan pendidikan pesantren tidak “menolak” modernitas. Stempel
“tradisionalis-ortodoks” yang telah lama disematkan pada NU dan
pesantren, kini terbantah sudah. Bahwa justru NU dan pesantren adalah
gembong utama dalam menyongsong modernitas untuk kemajuan dan
pembentukan karakter bangsa.
Basis dari komitmen NU dan pendidikan pesantren dalam mengemban amanat
founding father’s dalam menjaga keluhuran nilai-nilai empat pilar
kebangsaan yang diwujudkan—apa yang diklasifikasikan dengan tiga
konsep pembentukan karakter—oleh pesantren sebagaimana dirumuskan oleh
KH. Said Aqiel Siradj dibawah ini.
Pertama, tamaddun yaitu memajukan pesantren. Kedua, tsaqafah, yaitu
bagaimana memberikan pencerahan kepada umat Islam, agar kreatif dan
produktif, dengan tidak meninggalkan orisinalitas ajaran Islam.
Ketiga, hadlarah, yaitu membangun budaya. (Said Aqiel Siradj, 2009;
119-120).
Dengan demikian, konsep pembentukan karakter bangsa yang digagas NU
dan pesantren (dengan segala keunikannya) merupakan “simbiosis
mutualisme” dua institusi dalam menebar khazanah Islam yang tak
ternilai harganya. Segala upaya dalam iqamat al-ma’ruf, nahi
al-munkar, dan tu’minuna billah, secara sinergis merupakan tugas dan
fungsi pokok pesantren dalam membina para santrinya. Tentu kita semua
berharap agar dengan berbagai upaya ini konsep pembentukan karakter
bangsa seperti apa yang dikembangkan NU dan pesantren dapat terwujud
dan dapat diilhami oleh apapun dan siapaun individu dan lembaganya.

Harapan Pesantren untuk NU Sulbar

Berdasarkan data dari Direktorat Pendidikan Diniah dan Pondok
Pesantren Kementrian Agama RI tahun 2009 bahwa jumlah pondok pesantren
yang ada di Sulbar mencapai 36 pesantren, bahkan ada di antara
beberapa pesantren yang mampu mengharumkan nama baik Sulbar di
beberapa even kancah nasional dan itu merupakan suatu kebanggaan bagi
sebuah propinsi yang baru berusia 9 tahun.
Namun dari kesemua jumlah pondok pesantren tersebut ditengah arus
globalisasi yang makin deras masuk ke dalam pondok pesantren terancam
akan kehilangan identitas kepesantrenannya baik dari segi kurikulum,
maupun tradisi.
Akibat dari semua ini akan berimplikasi pada sebuah kenyataan bahwa
kelak pondok pesantren yang ada di Sulbar hanyalah bagian dari sejarah
masa lalu.
Oleh karenanya, harapan kami sebagai warga nahdliyyin dan sebagai
orang yang aktif di dunia kepesantrenan, bahwa siapapun nantinya yang
akan terpilih memimpin NU di Sulbar hendaklah ia menjalankan tugasnya
secara ikhlas karna itulah ciri utama dari kepribadian seorang warga
nahdliiyinn dan hendaklah ia mengawal keberlangsungan pendidikan yang
ada di pondok pesantren, tidak malah menjadikan NU sebagai batu
loncatan untuk meraih kedudukan yang lebih tinggi.
Memelihara pondok pesantren berarti memelihara warisan budaya dan
tradisi ke Islaman dan ke Indoneiasan. Mengawal pondok pesantren sama
halnya mengawal pembentukan karakter sebuah bangsa dan itu adalah
bagian dari cita-cita luhur para pendiri NU. Wallahu A’lam (**)

Share Button

Related Stories »

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

  • OBMmj (1 hari ago)
    Project Reklamasi Pantai Mamuju Tahap 2,.. (Rimuku - Karema).. penuh…
  • mrdn (4 hari ago)
    Banyak peserta dari pulau Jawa. Tapi pemenang harus dari Mamuju…
  • bruno (2 weeks ago)
    kapan sk cpns umum 2013 terbit dan kapan mulai aktif…
  • IBU WIDIA (3 weeks ago)
    ASSALAMU ALAIKUM SAYA IBU WIDIA ANGGOTA HONORER YANG LULUS K2…
  • wahyu (4 weeks ago)
    Maaf admin, coba kumpulin smua aksara lontar dari awal sampai…
  • wahyu (4 weeks ago)
    klo masalah huruf aksar lontar,, aksar lontar banyak,, mngkin memakai…
Close