Mengupas “Surat Dahlan” Bersama Dahlan

CATATAN: SUDIRMAN SAMUAL

“IBU, sekarang aku sudah tidak lajang lagi. Seorang perempuan yang kucinta, dan juga mencintaiku, telah kupinang untuk membangun mahligai rumah tangga. Aku merumahkan harapan dan menanggalkan doa ke pucuk langit. Semoga kami bisa menjadi sebuah keluarga yang damai saling mengasihi”.

Pakaian yang dikenakan tetap sama. Berbaju kemeja warna putih lengan panjang dan celana panjang warna hitam. Sepatu kets bermerek DI selalu menemaninya beraktivitas apapun di luar rumah.

Ya, dia adalah Dahlan Iskan. Mantan tukang rumput domba dari Kampung Karang Asem Magetan yang telah melalui masa-masa begitu sulit dengan penuh perjuangan, rasa ikhlas, dan kejujuran sehingga akhirnya menduduki jabatan sebagai Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang diakui hingga kini dirinya pun masih belum percaya telah menanggung amanah sebagai pejabat negara.
Malam, Selasa 19 Maret, Dahlan Iskan hadir di hadapan ratusan peserta acara Talkshow dan Booksigning Trilogi Novel Inspirasi Dahlan Iskan “Surat Dahlan” bersama penulis dari novel yang cukup diburu masyarakat ini, Krisna Pabichara, serta kritikus sastra dari UNM Akhyar Anwar. Acara ini digelar di lantai 4 Graha Pena Makassar.
Dalam novel biografi ini, Krisna mengupas kisah Dahlan yang mencoba mengejar cita dan cinta dengan meninggalkan kampung halamannya menuju sebuah wilayah di Kalimantan, tepatnya di tepi Sungai Mahakam Samarinda.
“Saya harus melalui jalan-jalan di kampung Karang Asam tempat Pak Dahlan dulu besar. Saya mengasah intuisi saya mengenai Dahlan saat remaja dan semangat yang menggelora di dadanya hingga berani memutuskan sebuah langkah berat, meninggalkan kampung untuk mengejar cita dan cinta di tanah seberang,” ungkap Krisna menggambarkan proses penulisan novel ini.
Akhyar Anwar yang merupakan dosen sosiologi budaya di UNM menyatakan penggalan kalimat yang tertuang dalam halaman 285 (seperti yang Radar Sulbar tulis pada pembukaan catatan ini,red) merupakan jantung atau jiwa tulisan ini. Disinilah sebenarnya penekanan penulis soal Dahlan dan gejolak batin yang lahir.
“Ini novel, bukan sebuah reportase. Sebab, tulisan ini banyak berkisah tentang story dan menggunakan kalimat sastra.Saya bahkan berharap novel ini dibaca banyak orang khususnya anak sekolah sebagai sebuah inspirasi dalam mengejar cita-cita. Novel ini sangat menarik sebab secara kultural dan sosial dekat dengan kita dan kita mengenal sosok tokohnya. Apalagi tokohnya memang berhasil,” beber Akhyar.
Dahlan sendiri menyatakan, tidak berabni membaca novel ini. Sama seperti novel pertama berjudul “Sepatu Dahlan”. Sebab dirinya tidak ingin melakukan intervensi terhadap apa yang sudah disajikan penulis dengan begitu apik.
“Saya memberikan kebebasan kepada Krisna untuk mengapresiasi sejarah hidup saya dalam novel ini. Saya tidak menitipkan apapun, apalagi sampai mencampuri isinya. Saya sadar, seni dan sastra jangan diintervensi karena harus jujur lahir dari hati,” ungkapnya.
Suasana bedah novel yang juga diikuti Chairman PT Fajar Group Alwi Hamu, sejumlah staf surat kabar Fajar, pelajar, mahasiswa, dan guru ini cukup hangat dan kekeluargaan. Dahlan bahkan tidak segan merangkul semua peserta yang menyampaikan kritik, pertanyaan, serta motivasi kepada Dahlan. (**)

Share Button

Related Stories »

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

  • bruno (2 weeks ago)
    kapan sk cpns umum 2013 terbit dan kapan mulai aktif…
  • IBU WIDIA (3 weeks ago)
    ASSALAMU ALAIKUM SAYA IBU WIDIA ANGGOTA HONORER YANG LULUS K2…
  • wahyu (4 weeks ago)
    Maaf admin, coba kumpulin smua aksara lontar dari awal sampai…
  • wahyu (4 weeks ago)
    klo masalah huruf aksar lontar,, aksar lontar banyak,, mngkin memakai…
  • Susilawati (4 weeks ago)
    Ya, botol susu adalah salah satu perlengkapan bayi, bagaimanapun juga…
  • wonodistrikseno (1 month ago)
    sudah banyak fakta dimasyarakat pengeluaran anggaran yang begitu besar melampaui…
Close