Lebih Ringan dan Memudahkan Pembaca

Menyambut E-paper Radar Sulbar (02/selesai)

Oleh: Muhammad Ridwan Alimuddin

Saat ini belum ada defenisi standar tentang “e-paper” sebagai koran di dunia maya. Tapi bila melihat layanan “e-paper” yang telah diberikan media-media besar, baik dalam maupun luar negeri, ada bisa simpulan untuk memberi defenisi. Setidaknya untuk saat ini. Sebab bisa saja apa yang ada sekarang, di masa mendatang mengalami perkembangan, hingga defenisi itu berubah; butuh penyesuain.

Dengan kata lain, meski teks berita tersebut ada di dalam komputer (terdigital) atau internet, tidak serta merta bisa dikategorikan sebagai koran elektronik.

Pertama, “e-paper” haruslah memberikan sensasi sebuah koran sebagaimana koran fisik. Yaitu grafis atau layoutnya. Persis seperti koran, yang posisinya “portrait” (tidak ada koran yang bentuknya “landscape”). Ini untuk membedakan atau tidak ada kerancuan dengan berita dalam bentuk teks atau gambar di layanan “online” (portal). Contohnya bisa dibedakan antara tampilan www.radar-sulbar.com dengan layanan “e-paper” Radar Sulbar. Sangat beda penampilannya.

Sensasi lainnya, koran itu bisa dibuka-buka. Yang mana ketika membukanya, betul-betul ada terlihat sudut koran atau lidah koran yang melengkung. Untuk hal seperti ini hanya teknis saja, sebab ada yang halamannya naik-turun, ada dari kiri-kanan, dan ada yang seperti membuka lembaran koran.

“E-paper” juga harus memudahkan pembacanya, baik saat membuka maupun kala mengaksesnya. Tidak rumit. Saat diberikan alamat di mana “e-paper” berada, pembaca langsung melihat. Dengan satu-kali klik saja, dia sudah menikmati membaca koran.

Format koran digital biasanya dikonversi pada ekstensi tertentu, misalnya .pdf. Bukan dalam ekstensi gambar, semisal .jpeg, .png, dan lainnya. Sebab masing-masing ekstensi ada peruntukannya, ada sebagai dokumen, ada sebagai gambar.

Format sangat berpengaruh. Sebagai contoh, bila dalam bentuk .jpeg, teks dalam halaman tersebut tidak bisa di “select” (mengkopi teks). Kasus lain, bila ada tulisan yang merujuk pada sebuah situs, yaitu ada singkatan “www”, bila formatnya salah, saat kursor dilewatkan diatasnya, tidak akan muncul fasilitas “link”. Dokumen juga tidak akan bisa dikunci (ada beberapa dokumen bisa dibaca tapi tidak bisa dikopi, tidak bisa dicetak, dll) dan dipasangi “hyperlink” atau “bookmarks”.

Seperti koran tradisional, “e-paper” harus ringan (mudah dibuka-buka), fleksibel, beresolusi tinggi (mudah dibaca), tidak silau oleh mata, dan terjangkau (jika pun dijual, tidak mahal). Jangan sebaliknya, susah dibuka dan membingunkan.

Sebagai sebuah teknologi, koran versi “e-paper” memang lebih membantu manusia. Konversi koran fisik ke koran digital adalah aksi nyata mengurangi penggunaan kertas (yang berasal dari pohon) dan tinta (bahan kimia). Artinya, ada penghematan dan signifikan berpengaruh terhadap upaya pengurangan pemanasan global.

Ya, koran versi digital ada keuntungannya. Demikian juga kekurangannya. Dua diantaranya adalah, khusus di negara berkembang yang layanan internet masih kurang (demikian juga kecepatannya terbatas), akses ke pasar terbatas. Sasarannya sepertinya hanya kepada kalangan menengah ke atas yang mempunyai fasilitas internet dan mempunyai telepon genggam yang memiliki kemampuan GPRS atau 3G atau wifi.

Teknologinya masih tergolong canggih. Kualitas SDM kita sangat lambat untuk mengikuti perkembangannya. Sederhananya seperti ini. Bila versi cetak, untuk membuat iklan yang ingin kita berikan ke media, cukup dengan foto atau desain ala kadarnya (misal di Photoshop atau Corel Draw), itu sudah bisa dimuat.

Tapi beda untuk koran digital versi terbaru, yang bisa memuat iklan interaktif. Yang jadi masalah, kemampuan SDM untuk membuat iklan, misalnya dalam bentuk Flash atau HTML 5, masih sangat kurang. Artinya, ruang yang bisa dimasuki tak termanfaatkan/digunakan. Ya, belum dijadikan lahan bisnis. Jika pun ada iklan di dalam, itu masih sama dengan yang digunakan di versi cetak (biasanya format .jpeg).

Meski ada beberapa kekurangan, keuntungan masih lebih banyak. Selain yang telah dikemukakan sebelumnya, keutungan lain dari “e-paper” adalah adanya fasilitas teknologi (hyperlink) yang memungkinkan satu koran menggabungkan kekayaan informasinya sendiri dengan informasi-informasi lain dalam internet sehingga informasi yang didapat dari koran digital menjadi semakin lengkap dan aktual.

Sebagaimana saat ini, selain mempunyai “e-paper”, sebelumnya Radar Sulbar juga sudah meluncurkan versi “website” atau portal, www.radar-sulbar.com. Isi “website” bukan hanya teks dan foto, tetapi juga video. Artikel berita pun bisa langsung dihubungkan dengan berita-berita terkait, yang terbit sebelumnya. Itu memudahkan pembaca memahami berita lebih komprehensif.

Perusahaan media juga bisa membuat koran yang khusus versi digital bukan versi “web”. Yang tadinya terbit setiap hari, bisa menjadi setiap beberapa jam “mencetak” koran. Ya, beritanya selalu terbaru. Tidak seperti edisi cetak yang harian atau mingguan. Jika ada berita baru, langsung dapat diunduh dan diunggah sehingga peristiwa yang disajikan semakin aktual.

Tak menutup kemungkinan, bila ada seseorang atau sekelompok orang yang ingin membuat media tanpa butuh biaya banyak, bisa dalam bentuk “e-paper” saja. Jadi dia tak mencetak koran dalam bentuk fisik, hanya “e-paper”. Untuk majalah, sudah banyak yang melakukannya di kota-kota besar.

Dengan koran atau majalah digital, pembaca mempunyai kebebasan memilih berita yang akan dibaca. Misalnya dari halaman menu saja, dengan sekali klik “thumbnail” halaman yang akan dituju bisa langsung muncul. Bisa tak membuka halaman 2, 3, 4; bisa langsung ke halaman kesukaan, misalnya olahraga.

Dan yang paling membedakan dengan koran fisik adalah metode penyimpanan dan kepraktisannya. Dengan satu “tablet” saja, bisa disimpan ribuan jilid koran. Bandingkan dengan koran fisik, ratusan jilid saja sudah bisa memenuhi kamar. Meskipun ada ribuan jilid di tablet atau komputer, untuk mencarinya amatlah mudah. Dalam hitungan menit saja.

Contohnya Kindle DX. Bentuknya seperti tablet, ukuran layarnya hampir 10 inci. Diproduksi oleh toko buku maya terbesar di dunia, Amazon.com. Harga alatnya sekitar Rp 5,5 juta. Sekilas ada kemiripan dengan “tablet” pada umumnya, namun, ada perbedaan mendasar di antara keduanya. Soal pengarsipan berita. Pada Kindle DX bisa melihat sekitar 3500 arsip berita terdahulu. Juga tidak harus repot menyiapkan atau menghubungkannya ke komputer.

Beberapa media di Amerika Serikat, seperti New York Times, Wall Street Journal, Time, The New Yorker telah menjalin kerjasama, sehingga setiap koran atau majalah tersebut terbit, versi digitalnya akan langsung dikirim ke Kindle DX. Tanpa pembaca perlu mencari-carinya dulu di internet.

Dengan hanya membayar seratusan ribu rupiah, kita membaca ratusan bahkan ribuan buku yang tersedia diAmazon.com. Buku yang bersangkutan akan dikirim melalui jaringan pita lebar nirkabel dalam waktu kurang dari 60 detik. Tapi itu tergantung jaringan internet yang ada.

Walau tak ada fisiknya (misalnya pembaca Radar Sulbar di Amerika), dia bisa meng-klipping artikel di Radar Sulbar “e-paper”. Caranya amat gampang, tinggal dicetak dengan mesin “printer”. Mudah kan?

Singkat kata, Radar Sulbar saat ini sedang menuju sebagai koran masa depan. Di mana media yang diberikan memiliki kemampuan multimedia seperti menampilkan grafik, bunyi, dan video klip dalam dokumen digital secara terpadu dan sinkron. Semakin memudahkan pembaca namun tetap berkualitas.

Selamat atas diluncurkannya “e-paper” Radar Sulbar, semoga makin cerdas, kreatif, dan memberi jalan untuk lebih ‘indie’ dalam memuat berita dan bersikap.

Share Button

Related Stories »

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

  • OBMmj (2 hari ago)
    Project Reklamasi Pantai Mamuju Tahap 2,.. (Rimuku - Karema).. penuh…
  • mrdn (4 hari ago)
    Banyak peserta dari pulau Jawa. Tapi pemenang harus dari Mamuju…
  • bruno (2 weeks ago)
    kapan sk cpns umum 2013 terbit dan kapan mulai aktif…
  • IBU WIDIA (3 weeks ago)
    ASSALAMU ALAIKUM SAYA IBU WIDIA ANGGOTA HONORER YANG LULUS K2…
  • wahyu (4 weeks ago)
    Maaf admin, coba kumpulin smua aksara lontar dari awal sampai…
  • wahyu (4 weeks ago)
    klo masalah huruf aksar lontar,, aksar lontar banyak,, mngkin memakai…
Close