Dialog Publik ‘Andai Aku Bupati Polman’

Hanya Dua Figur yang Curah Gagasan

POLEWALI — Langkah kreatif menyambut Pemilukada Polman dilaksanakan
beberapa pemuda di Pambusuang, Polman, dengan mengadakan Dialog Publik
“Andai Aku Bupati Polman”. Kegiatanya dipusatkan di di Kompleks Pasar
Pambusuang, Sabtu, 13 Oktober.
“Sekarang ini banyak sekali baliho yang menyatakan diri siap menjadi
bupati Polman. Tapi banyak juga yang tidak kita kenal, tidak tahu
siapa mereka, dan akan dibawa ke mana Polewali Mandar bila betul jadi
bupati. Agar kita tidak membeli kucing dalam karung, Poros Pemuda
Demokrasi Sulawesi Barat mengadakan dialog publik yang menghadirkan
bakal calon bupati Polman,” kata Syamsul Samad, anggota DPRD Polman,
diawal dialog.
Dikatakannya, panitia telah mendatangi rumah mereka satu per satu
kurang lebih 12 calon bupati yang ada balihonya. Satu minggu jalan,
sisa sepuluh yang bersedia. Tujuh hari menjelang hari ‘H’ gugur satu,
tiga hari menjelang sisa enam, dan kemarin tinggal empat bersedia yang
hadir.

Sebagaimana terpasang di baliho publikasi, dialog publik ini
menjadwalkan kehadiran enam bakal calon bupati Polman, yaitu Asri
Anas, Muhammad Hamzih, Andi Ibrahim Masdar, Naharuddin, Nadjamuddin
Ibrahim, dan Mujirin M. Yamin. Namun di acara dialog yang disaksikan
ratusan warga Pambusuang hanya dihadiri dua bakal calon, yakni Asri
Anas dan Muhammad Hamzih.Acara dibuka oleh Camat Balanipa, Abdul
Karim. Dalam sambutannya ia menyampaikan bahwa kegiatan ini sangat
menarik. Pertama, ini adalah pendidikan politik yang akan membuat
masyarakat semakin dewasa dalam berdemokrasi. Kedua, kegiatan ini
berlangsung di pasar. Setiap pasar, kita bisa saksikan para penjual
pisang, kelapa, “jepa” dan lain-lain duduk bersama. Meski demikian,
mereka tidak saling menjelek-jelekkan akan dagangan mereka.
Rencana awal acara akan dimoderatori oleh Syamsul Samad, belakangan
diganti oleh Asad Sattari.
Menurut Syamsul Samad, ia tidak ingin menjadi moderator karena
statusnya sebagai pengurus partai politik. Itu sebabnya ia meminta
Asad Sattari sebagai moderator.
Dialog berlangsung bersahaja. Los pasar diubah sedemikian rupa menjadi
arena “talk show”. Latar panggung berupa baliho dan kain panjang
digunakan sebagai pembatas. Acara dihadiri beberapa tokoh masyarakat,
seperti Camat Balanipa, Kepala Desa Pambusuang, Imam Besar Mesjid At
Taqwa Pambusuang, dan Abdul Rahim (anggota DPRD Polman).

Moderator, Asad Sattari, memberi kesempatan pertama kepada Muhammad
Hamzih untuk menyampaikan harapan-harapannya bila menjadi bupati
Polman. Di sini Hamzih menyampaikan jika pernah suatu waktu wartawan
menanyainya, ditanyakan apa yang menjadi andalan dirinya sehingga
berani maju dalam pertarungan memperebutkan kursi bupati Polman.
“Kalau dibandingkan calon lain, saya memang tidak punya apa-apa. Tapi
begini, ada dua yang tidak saya miliki dan dua saya miliki. Apa itu?
Pertama saya bukan keturunan Manggabarani, S. Mengga, dan bukan
keturunan Masdar. Yang kedua saya tidak punya uang seperti yang lain.
Tapi dua saya miliki, saya punya Allah SWT dan Rasulullah,” tutur
Hamzazih.
Orasi Hamzih yang saat ini menjabat Kepala Perwakilan Sulbar Jakarta
yang juga berisi janji-janji. Antara lain, akan membangun di
Pambusuang Islamic Center, masjid paling modern yang akan mengalahkan
mesjid raya Mamuju, dan pesantren modern berbasis kelautan dan
perkebunan.
Bukan hanya itu, juga akan menjadikan Pambusuang dan Campalagian
sebagai pusat pengkaderan ulama.
Hamzih juga menjanjikan akan membuat Bundaran Tipalayo di depan areal
Gedung Gabungan Dinas, Mesjid Syuhada, dan Kantor Agama. “Seperti
Bundaran HI di Jakarta, akan saya bangun air mancur agar orang banyak
datang, pada gilirannya tumbuh aktivitas ekonomi,” kata salah satu
komponen pejuang pembentukan Provinsi Sulbar ini.

Pembangunan di Tinambung tak ketinggalan, dengan baju kotak-kotaknya,
Hamzih menyampaikan, “Masa’ lapangan Tinambung kalau tengah malam
dijadikan ajang mancing. Kan memalukan seperti itu. Ke depan akan
dibangun kerajaan mini di Tinambung”.

Menutup harapannya jika menjadi Bupati Polman, Muhammad Hamzih
menyampaikan jika kedepan akan memberi anggaran Rp 500 juta per desa
per tahun. Kenapa tidak? Banyak uang di Polman, Rp 700 miliar.
Berbeda dengan Hamzih, dalam orasinya, Asri Anas tidak banyak
menjanjikan banyak hal yang berkaitan dengan pembangunan fisik.
Membuka harapannya, Asri menyampaikan jika ia datang untuk memberikan
pendidikan politik yang baik kepada masyarakat. Bukan semata-mata
berpikir akan bernafsu jadi bupati. “Banyak teman-teman mengatakan
begini, Pak Asri mau jadi bupati nggak?. Saya mengatakan, kalau
dipikir-pikir dalam beberapa hal, agak panjang merenung untuk jadi
bupati. Rugi kalau jadi bupati, dari aspek jaringan, pengalaman. Tapi
banyak juga yang mendorong. Saya merenung enam bulan. Kemudian tanggal
16 bulan lalu saya nyatakan insya Allah bersedia. Kalo aspek uang,
sekarang ini sebagai Ketua Badan Anggaran di DPD saya mengelola lebih
Rp 2 triliun, dibanding Polman hanya Rp700 miliar,” jelasnya.

Asri Anas yang pernah menjuarai lomba debat antar pemuda Asean banyak
menceritakan pengalamannya baik di luar negeri maupun dalam negeri.
“Kalau Pak Hamzih katakan Polman kaya, saya katakan tidak kaya. PAD
Polman paling Rp18 miliar, terakhir Rp26 miliar di APBD, tapi rilnya
Rp18 miliar. Untuk menggaji desa saja tidak cukup. Apa itu kaya?. Tapi
kalau DAU, tinggi, Rp700 miliar. Hanya saja itu kan subsidi negara,”
sSambung salah satu anggota DPD termuda tersebut.
Sebab miskin pendapatan, Polman akan dibawa ke mana?, kata Asri.
Diingatkan agar membangun Polman itu harus hati-hati. Sebab dari Rp
700 miliar itu hanya Rp 200 miliar bisa digunakan untuk pembangunan,
sisanya belanja pegawai.
Menurut Asri Anas, harus ada upaya serius pemerintah Polman ke depan
untuk menciptakan generasi unggul.
Untuk itu, pendidikan dan pelatihan kerja harus digenjot. Jadi apa
solusi pemerintah daerah? Salah satu mimpi Asri adalah ingin membuat
tempat pelatihan kerja terbaik di Indonesia Timur. “Saya ke Taiwan,
Dubai, mereka butuh tenaga kerja. Di sini ada banyak sumberdaya
manusia, hanya saja mereka tidak memiliki keterampilan,” tuturnya
dengan yakin.
Ke depan, sambung Asri, harus ada kerjasama antar pemerintah, di mana
pemerintah kabupaten melatih sumberdaya manusia agar memiliki
keterampilan kerja, setidaknya Bahasa Inggris. Yang tamat STIKES kita
kasih kursus Bahasa Inggris satu tahun, setelah itu dikirim ke luar
negeri. Bekerja di luar negeri gajinya lumayan, 10-14 juta. Tapi,
harus berdasar kerjasama antar pemerintah, bukan TKI liar seperti
sekarang ini.
Mengapa harus cara begitu? Sebab Polman itu bukan daerah industri.
Jangan mimpi akan buka industri atau pabrik yang bisa menyerap
lapangan kerja sampai 10.000 orang. Satu-satunya cara hanya lewat
pengiriman tenaga kerja profesional ke luar negeri. Lulusan SMK harus
ditambah pengalamannya.
Asri Anas juga mengeritik sistem yang berjalan di Polman. Dalam dunia
usaha, di sini turun grafik yang buka usaha di sini. Setidaknya bila
dilihat dari pengurusan SIUP dan SITU. Kalau bisa satu hari, di sini
kadang-kadang membayar padahal di kabupaten lain gratis. Untuk buat
koperasi saja bisa sampai sebulan. Padahal rumus kabupaten maju adalah
banyak usaha.
Selain penyampaian orasi, juga dilangsungkan tanya jawab. Sekitar
tujuh orang yang mengajukan pertanyaan. Acara ditutup menjelang jam
dua belas malam. (mra/ham)

Share Button

Related Stories »

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

  • bruno (2 weeks ago)
    kapan sk cpns umum 2013 terbit dan kapan mulai aktif…
  • IBU WIDIA (3 weeks ago)
    ASSALAMU ALAIKUM SAYA IBU WIDIA ANGGOTA HONORER YANG LULUS K2…
  • wahyu (4 weeks ago)
    Maaf admin, coba kumpulin smua aksara lontar dari awal sampai…
  • wahyu (4 weeks ago)
    klo masalah huruf aksar lontar,, aksar lontar banyak,, mngkin memakai…
  • Susilawati (4 weeks ago)
    Ya, botol susu adalah salah satu perlengkapan bayi, bagaimanapun juga…
  • wonodistrikseno (1 month ago)
    sudah banyak fakta dimasyarakat pengeluaran anggaran yang begitu besar melampaui…
Close